Assalamualaiku Wr. Wb
Berat rasanya hendak beranjak dari kota hujan,
kebersamaan yang terjalin dalam waktu singkat
memberikan kesan yang tak telupakan. Rentetan-
rentet an kisah yang terangkai bahkan telah tertata
rapi dalam lembar kehidupan.
Banyak hal kecil yang kita pun terkadang
menganggapnya biasa tetapi itu menyimpan
banyak kesan yang mendalam, dan terkadang
sesuatu yang besar terkadang terlupakan.
Teruslah berkarya.
Tetap semangat.
Jika ada waktu Berkunjunglah ke kota kami.
#Yakusa
Rabu, 03 Juli 2013
Rabu, 27 Februari 2013
Orientasi Mahasiswa Baru ''2010''
Pra_OMB`2010
(sebelum_orientasi mahasiswa baru)
Siang ini memang terik. Saya, ayu serta calon mahasiswa baru lainnya
menunggu di depan ruangan BAAK untuk menyetor kwitansi pembayaran. Terdengar
suara teriakan yang membuat Mataku tertuju pada ruangan yang tak satupun
jendelanya terpasangi kaca, dan baru aku tau dari ayu bahwa ternyata ruangan
itu adalah aula universitas cokroaminoto palopo.
ayu menepuk pundakku seraya berkata
“ Ti sampai kapan kita harus menunggu disini”, sambil mengerutkan
keningnya.
“ Entahlah” kataku.
Antrian masih panjang, ayu menarik tanganku ia hendak menerobos lautan
manusia yang ada di hadapan matanya, aku tak bisa berkata apa-apa. Setelah
urusan dengan BAAK selesai ayu mengajakku
ke aula,
“untuk apa ke aula Yu” kataku.
Ia tak menggubris pertayaanku. Sesampainya di sana, ayu mengajakku duduk
di depan prodi pend.bahasa dan sastra Indonesia.
“lihat” katanya membuka pembicaraan.
“apanya” kataku tak mengerti apa yang sedang iya maksud. Ia menggelangkan
kepalanya kemudian berkata .
“hasti, hasti… kamu itu tidak tau
atau pura-pura tidak tau”
“apanya” kataku semakin tidak mengerti.
“ lihat, mereka yang diatas panggung.” Katanya sambil menunjuk ke arah
panggung.
“ooo”jawabku singkat.
Sekarang Saya mengerti, mengapa iya
membawaku ke sini ternyata sedari tadi dia memperhatikan saya yang selalu memandang ke arah aula. Ia
hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Hari semakin sore, jam menunjukan pukul 14:30. Kami memutuskan untuk
pulang dan datang lagi saat pra_omb 31 juli 2010.
***
Sesampainya di kampus,
saya dan ayu langsung diarahkan menuju aula di mana seluruh mahasiswa baru
(MABA) dikumpulkan. Sambutan-sabutan di berikan oleh presiden BEM “ka’
hajaruddin” dan wakilnya “k’ sumartono”, setelah itu perkenalan seluruh panitia
omb. Korlap ( coordinator lapangan) ada ka’nanang, ka’ ardi, ka’wawan, dan ka’
kahar. (Coordinator stering), ada ka’erin, ka ‘ muslim, ka’sem, dan ka’muhajir.
Coordinator gugus ada ka’candra, ka’ari, Dll. Dan kanda – kanda pendamping yang
lain.
Pembagian gugus sudah ditetapkan saya, ayu, nurul, jayus, nanna, dan 20
teman-teman yang lain berada di gugus 7. Yang dikoordinatori oleh kanda candra,
dan didampingi oleh ka’erwin, ka’ tendri, dan ka’ hadi.
Kanda candra, FMIPA, semester 3, Ka’erwin dan ka’tendri, FKIP_BSI, Ka’ hadi,
FKIP_B.inggris
Pembacaan tatip Omb pun
sudah dibacakan, seperti atribut yang harus dipakai saat omb, dan ada juga
peraturan yang di bacakan membuat kami
tidak bisa menerima kebijakan itu, sampai pencabutan hak yang sampai
99%, itu berarti kami hanya di beri hak untuk bernafas, makan, buang air, tapi
kami tidak di beri hak untuk berkomentar kalau panitia membuat kesalahan dan
menganggap panitia tidak pernah salah, mmm…banyak tidak setuju dengan itu.
***
Malam ini saya membuat
rumbai-rumbai di bantu ka’Mila, sembari mengerjakan rumbai itu ka’ mila juga
bercerita tentang seseorang di masa lalunya. Mmmm, terbawa suasana jadi lupa
waktu, + pukul 23:35 kami memutuskan untuk mengisatirahatkan mata dan
tubuh kami sejenak, yang seharian bekerja tanpa lelah. Dan besok saya harus ke
rumah ayu untuk membuat atribut yang lain. Have a nice dream’s.
***
Malam ini, ayu menginap di kostku, kami mempersiapkan atribut ( pembuatan
atribut di bantu agus, taufik,…., nany dan harisa”lupa nmax”) dan perlengkapan
kebersihan( ember, sikat, sapu, lap, dan superpel). O’iya hampir lupa kerudung
juga harus menggunakan pita merah putih ( memperingati kemerdekaan RI di bulan
agustus. Tapatnya 17 agustus, nanti). “Tidur…tidur…. Besok bangun jam 3” kata
ayu menuju ke tempat tidur. Aku hanya bisa tersenyum melihat dia tak pernah
berubah tetap menjadi pribadi yang menyenangkan…hhh…
***
OMB( orientasi mahasiswa baru)2010
Udara yang dingin serasa merasuk kedalam tulang-belulang. Dan alarm pun
berbunyi pukul 02:25. Saya membangunkan ayu untuk siap-siap untuk ke ke kampus
nanti. “ufh…ngantuk ka bah” katanya sambil mengucek-ngucek matanya.
“ ya ngantuk memang, tapi mau di apa. Setengh 4 ki di suruh kumpul di
jemput ( jembatan putih)” kata ku mempersiapkan pakaian yang akan kami pakai,
”siapa yang duluan mandi saya atau kamu” tanya ku pada ayu.
“ saya duluan, nanti saya tidur lagi low kamu duluan..hhh” jawabnya sambil
tersemyum kecil. “ ya sudah cepat sana” tambah ku.
Selesai ayu mandi, saya pun menuju kamar mandi. Dan ayu mempersiapkan
sarapan untuk kami makan sebelum berangkat nanti. Setelah makan, kami mengecek
kembali atribut dan perlengkapan yang akan kami bawa, dan siap-siap intuk
bertempur…hhhh (perang kali bertempur) “kanda” peach
***
Ufh..... Baru saja keluar dari pintu pagar kost, kami sudah mendengar
teriakan kakak panitia “ CEPAT….CEPAT….” “ DI SANA….. DI SANA”… “ufh sangar
sangad” gumamku dalam hati. Mereka membagi tugas, di setiap post pasti ada
materi yang di berikan dan akan di tanyakan kembali oleh kakak di post
berikutnya. Materi tentang kemahasiswaan, perguruan tinggi, keorganisasian, ada
juga post dimana di post itu mental kita di uji, keilmuan dan evaluasi.
Di post terakhir kami di tanya kembali tentang materi yang telah kami
dapat di setiap post-post tadi. “Ufh… ada ka’’ary” gumamku dalam hati.
“ya..ade( menunjuk ke arah ku)… coba sebutkan tri-darma perguruan tinggi”
tanya_nya dengan muka yang masam.
“pendidikan, penelitian dan pengabdian.” Jawabku dengan kepala merunduk
sebab takut di kenali.
“mm.. oke… kayak kenal” bisiknya..kemudian tersenyum
“???...saya tidak mengerti” gumamku dalam hati
Dia menuju ke yang lainnya, memberikan pertanyaan yang berbeda. Waktu
menunjukkan pukul 04:52, kumandang azan telah terdengar saat saya di berikan
pertanyaan. Dan teman-teman yang menjalankan sholat subhu di arahkan menuju
masjid terdekat, afwan, saya tidak sholat sedang datang tamu bulanan, ada juga
beberapa teman yang sholat di pinggir jalan karena tak ada masjid di dekat post
yang mereka singgahi.
teman-teman yang pergi sholat tadi kembali ke dalam barisan. Kemudian kami
di arahkan ke lapangan pancasila, setelah sampai di lapangan, pemeriksaan
atribut di lakukan oleh kanda-kanda panitia pendaping dan jika ada yang
bermasalah langsung berurusan dengan kanda-kanda korlap. Setelah pemeriksaan
atribut kami di suruh mencari gugus masing-masing.
***
Cahaya mataharinya yang menyeruak di iringi kicauan burung gereja yang
menghiasi langit pagi ini, menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.
Masing-masing koordiator gugus membawa papan nama bertuliskan nama
gugusnya. Kanda candra selaku koordinator gugus 7 atau Dr. ratulang. Dan setiap
gugus di wajibkan membuat yel-yel untuk membangkitkan semangat, saya, jayus dan
beberapa teman lainnya berembuk untuk membuat syair yang cocok untuk gugsus 7.
Dan kami berhasil membuat syairnya.
Mmm simak baik- baik yach.
Hello…hay..
Hay…hello
Hello…hello..hay..
Hay..hay..hello
Nongkrong di gugus 7
Bareng ama kak candra
Biar kira susah payah
Yang penting kita happy
Gugus 7
Paling imut
Yang lain
Lewat….
Hhh.. ka’’ candara saja yang mendengarnya sampai tertawa geli melihat kami
yang menjadikannya objek dalam yel-yel yang kami buat sendiri. Mmmm ada yang
malu tuh…hhhh afwan kanda just kidding.
***
Suasana yang panas, pengap, bercampur keringat membuat ku tak bisa
berkonsentrasi dengan apa yang di sampaikan oleh kanda-kanda yang berada di
atas podium. Entah apa yang mereka katakan,tapi mataku terpaku kepada sosok
yang berada di depan sana. Seorang yang dengan semangatnya yang membara
memberikan motivasi kepada kami, tak usai aku mendalami sosok itu, kami di suruh
berdiri dan harus mengikuti instruksi dari wakil presiden BEM yang memimpin
kami melantakan suara, menyerukan sumpah mahasiswa
“”
Seusai menyerukan sumpah mahasiswa, kami kembali di persilahkan duduk.
Hati ku tergetar saat ketika mendengar kakak serta teman-teman yang mengikuti
orientasi mahasiswa baru, sangat lantang menyerukan kalimat sumpah mahasiswa .
“Mmm…!”desahku dalam hati.
kalimat demi kalimat yang di serukan seolah-olah menyatu dengan nadiku,
merasuk kedalam ke dalam tulang. Hal itu membuatku tak berdaya, aku merenungi
kata demi kata yang tanpa sadar akupun menyerukan kalimat-kalimat itu.
Aku tersentak ketika kak’hadi menyadarkanku dari lamunan yang tak kunjung
ku dapatkan jawabannya hingga saat ini, mengapa aku seperti ini, mangapa.
“ de’ kita ke podium nah..” kata kak’ hadi
“ha..?? saya,” jawabku masih dalam keadaan setengah sadar,” kenapa harus
saya kak, kan bayak teman-teman yang lain” lanjutku sembari mengatur posisi
dudukku.
“biar mi kita’ saja,nah”lanjutnya. Ia menarik lenganku menuju podium.
Ufh… banyak perwakilan gugus lain di atas sini. “Aduh bagaimana ini”keluh
ku.
Ka’’hadi melangkah dengan pasti,menggenggam erat lengatku.
“apa alasan kalian
sehingga kalian berdiri di depan sini, apa kalian merasa paling cantik diantara
teman-teman kalian sehingga kalian berdiri didepan sini. ”kata salah seorang
korlap, suaranya yang tegas tanpa basa-basi, serta wajahnya yang teduh, menenangkan hati setiap orang yang
memandangnya. Kami diberi kesempatan untuk memberikan jawaban yang ia inginkan.
Berbagai jenis jawaban yang mereka lontarkan, kini tiba Giliranku.
”saya beridiri disini, bukan karena saya merasa paling cantik diantara
teman-teman saya, pada dasarnya semua wanita itu cantik hanya saja kecantikan
itu tidak hanya dilihat dari fisik saja, kecantikan hati juga menjadi penilaian
tersendiri bagi sebagian orang.”jawabku lirih. Dia mengangguk seolah sependapat
dengan apa yang ku katakan. Kami di persilahkan kembali ke gugus masing-masing,
ku lihat ka’hadi tersenyum lega mendengar jawaban yang ku berikan tadi.
***
Ka’candra menginstruksikan agar kami mengumpulkan snack,roti,dll. Yang
kami bawa dari rumah masing-masing. setelah terkumpul semua,ka’’candra,
kemudian membagikan kembali kue yang terkumpul tadi, “serata mungkin”.
“Mmm dia memang seorang pemimpin yang baik” gumamku,.
Oiya digugus 7 banyak lo yang mengagumi ka’candra Bagaimana tidak, Dia
selalu tampak berwibawah ketika memberikan nasehat-nasehat pada kami. Setiap
kata yang ia sampaikan seolah-olah mengipnotis orang yang mendengarnya.
#wait for the continuation of this story
Selasa, 22 Januari 2013
Perempuan yang Seperti Angin
Aku bukanlah titik
Hanya sebuah koma yang mencoba menerjemahkan bahasa angin
Dan mengurai kata yang turun pada rintik hujan
Aku hanyalah separuh dari aksara yang ada dalam mimpimu
Yang ingin mengejawantah saat kau terbangun
Aku bukan samar bayang yang hanya kekal dalam imajinasi
Sebab
Saat kau menyeruput secangkir kopi
Aku ada di sampingmu
Seperti sebuah majalah dinding. Kalimat-kalimat itu berbaris rapi pada lembaran kertas yang menempel padanya. Lalu kubaca, dan berkelindan bagai sebuah cerita yang rumit. Kadang kala aku mengerutkan kening, atau menggaruk-garuk kepala meski tak gatal, sebab terlalu riskan rasanya menerjemahkan yang banyak itu dengan kapasitas pengetahuan yang sebegini. Namun aku harus melakukannya, sebab jika berhasil, maka pemilik senyum satu rindu akan merupa sempurna di hadapanku.
***
Seperti hari-hari biasanya, bangun pagi dan menyiapkan segala hal untuk keperluan anak-anak dan suaminya. Setelah itu dia berangkat “berdinas”; beginilah dia menyebutnya. Terlahir sebagai seorang perempuan, dia berbeda dari yang lain. Sebab, diusianya yang terbilang belum terlalu tua, dia telah menikah dan dikaruniai sepuluh orang anak. Sesuatu yang dianggap tidak lazim untuk konteks sekarang? Tetapi Daeng Te’ne, sapaan akrabnya, tidak menyoalkan itu. Justru dengan beban hidup membiayai sepuluh orang anak, menjadi motivasi baginya lebih kreatif mencari pundi-pundi rupiah.
Beruntung ada beberapa orang di antara anak-anaknya yang bisa membantu untuk menyelesaikan persoalan ekonomi, sebab dalam hal ini, suaminya tidak bisa diharapkan; hampir separuh anggota tubuhnya, pupus digerus penyakit kusta. Namun Daeng Te’ne merasa belum puas. Dia memiliki mimpi, membalikkan takdir pada anak-anaknya. Sungguh, meski tidak sempat menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, dia memiliki pikiran yang terbuka. Mungkin, dia bersekolah pada kehidupan. Apalagi jika bercerita tentang masa depan anak-anaknya. Ketidakpuasannya ini terlihat pada keseriusannya mengurusi anak bungsunya dalam hal pendidikan. “Katte kodong, tenamo kuassikola. Jaji anne mami harapangku.” Katanya, sambil menunjuk si bungsu, Rais. Dia berharap, anak bungsunya ini tidak bernasib sama dengannya.
Untuk itu, ditiap harinya, hampir semua pekerjaan yang “tidak lazim” digelutinya. Mulai dari mengojek, mencuci pakaian para anak kost, memungut barang-barang bekas, sampai pada aktivitas mengemis di jalanan, “berdinas.” Katanya.
“Sembarangan nakke kujama, assalan tena ku lukka,” tegasnya.
Aku bertetangga dengannya, namun terlihat jelas perbedaan di antara kami. Dia telah menjadi seorang ibu, aku belum. Aku tinggal di rumah yang terbilang mewah. Sementara dia dan anak-anaknya tinggal di tempat yang sederhana, dan nyaris tak layak disebut rumah. Aku besar dengan limpahan materi, sementara dia hidup pas-pasan dan bekerja keras. Yang terpenting, di tengah keterbatasannya, dia masih sempat menyisihkan sedikit uang atau membelikan beberapa permen untuk anak-anak kecil di sekitarnya yang kurang lebih bernasib sama sepertinya. Inilah yang membuat aku terkadang malu.
Sering kubayangkan, bagaimana jika aku juga telah menjadi seorang ibu. Mampukah aku seperti dia? Menjadi tulang punggung keluarga, tanpa pernah berpikir lagi mengurus diri sendiri. Sekarang saja, tanpa beban dan tanggungan apapun, tiap hari keluhanku menggunung. Bahkan untuk hal-hal yang sepeleh. Apalagi soal mengeluarkan uang. Aku sangat hati-hati dan sedikit pelit. Tetapi kadang juga aku berpikiran egois, bahwa hidup itu bagaikan roda yang terus berputar. Begitupun dengan nasib seseorang, tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya. Mungkin ini sekedar bahasa hati, kalau bukan ego individu untuk membela diri.
***
Huruf-huruf yang berjejal di angkasa malam ini, mengingatkanku pada Dia. Hampir setahun aku tidak lagi melihat dan mendengar suaranya yang riuh kala pagi. Kabarnya, dia harus pindah karena lahan tempat rumahnya berdiri akan digunakan oleh pemiliknya untuk usaha kos-kosan. Dan lihat! Gumpalan awan menaikkan ibu jari di tangan kanannya sambil mengarah ke lahan tempat rumahnya dulu yang kini sudah berganti tiang-tiang beton. Mungkin, dia juga rindu. Entahlah!
Sementara bintang gemintang, membentuk sebuah rasi Columba; seekor merpati. Wajahnya terpola di sana, siap melesat mengikuti sang merpati menjelma menjadi angin. Pekat pun tak mau kalah. Dia bersekutu dengan sunyi mengirimkan cerita tentang perjuangan dan pengorbanan, sesekali mereka berbisik, mungkin bercerita tentangku. Aku benar-benar merasa tersinggung pada tingkah mereka. Sebab di rahimku, sosok bayi telah mengisinya selama tiga minggu. Dalam hitungan bulan, aku akan menjadi seorang ibu. Namun, tetap aku masih berbeda dengan Daeng Te’ne. Kabarnya, saat mengandung anak pertamanya, dia belum memiliki apa-apa. Makan saja begitu sulit, apalagi untuk menyuplai gizi janinnya. Dia membawa serta calon bayinya, merasai dinginnya malam dan kakunya tembok emperan toko. Aku, menu yang kusantap lebih dari cukup. Aku memiliki rumah untuk bernaung, tetapi aku masih terlalu sering mengutuk takdir, sementara dia tidak.
Pantas saja, jika seisi angkasa malam ini mementaskan teatrikal di hadapanku. Mereka ingin menyudahi segala kepongahan yang menyelimuti. Sebab aku akan menjadi seorang ibu. Itu artinya, satu eposide akan kulunasi. Sudah saatnya aku lebih dewasa dalam segala hal. Dan bersamaan dengan berakhirnya pentas malam, aku putuskan, jika Daeng Te’ne menjelma angin, bertiup lembut dalam pikir dan rasaku. Maka aku akan membiarkan kedua tanganku terbuka lebar-lebar untuk merasai hembusannya. Ingin belajar darinya, agar hidup tak sekadar makan dan minum, lalu tidur memunggungi malam.
Makassar, 22 Desember 2012 (00.15 – 02. 12 Wita)
Buah karya, untuk mengkhidmati siapapun yang layak digelari IBU!
Catatan;
Katte kodong, tenamo kuassikola. Jaji anne mami harapangku (Saya ini, sudah tidak sekolah. Jadi hanya dialah harapanku)
Sembarangan nakke kujama, assalan tena ku lukka (Saya akan mengerjakan apapun, asal bukan mencuri)

OPINI ;Independensi HMI MPO di ranah Praktis
Zaenal
Abidin Riam
Written By Buletinsia on Jumat, 18 Januari 2013 | 6:47 AM
Kader HMI MPO Cabang Makassar
Independensi
merupakan sikap yang mesti ada dalam setiap organisasi mahasiswa, independensi
di tingkat mahasiswa dimaknai secara beragam, bagi organisasi mahasiswa
tertentu, independensi dipahami sebagai keterlepasan dari segala bentuk ikatan
struktur formal dengan lembaga atau kelompok kepentingan manapun namun secara
kultur mereka tetap merasa sebagai bagian dari ormas besar tertentu karena
merasa lahir dari rahim ormas besar tersebut. Persepsi lain menganggap bahwa
independensi merupakan keterlepasan utuh baik secara struktur maupun kultur
dengan lembaga dan kelompok kepentingan manapun, terlebih lagi ketika ia merasa
lahir dengan sendirinya tanpa ada ormas besar yang melahirkannya. Dalam konteks
independensi, HMI lebih cocok diposisikan pada terma yang ke dua.
Posisi HMI pada terma ke dua tidak
serta – merta mampu menjaga kemurnian independensinya, kita mesti memahami
relasi linear independensi dalam altar konseptual dengan aplikasi independensi
di ranah praktis. independensi bisa didengungkan dengan nyaring dalam ranah
konseptual tapi aplikasi praktisnya bisa saja mengalami hambatan, hambatan
tersebut lahir karena ranah praktis sangat diwarnai dengan tarik menarik
berbagai kepentingan. Penerapan utuh independensi sangat membutuhkan pemahaman
dari para kader tentang makna independensi secara utuh, pemahaman tentang
independensi secara utuh merupakan salah satu penentu dalam menindaklanjuti
independensi dalam realitas empirik, ketika pada altar konseptual makna
independensi direduksi maka ruang geraknya di ranah praktis akan menyempit
namun ketika maknanya terlalu dikompromikan maka ia juga sangat berpotensi
untuk terciderai.
penegasan tentang independensi
sebagai sikap organisasi bukan berarti menutup ruang gerak HMI untuk melakukan
kerja sama dengan kelompok atau individu lain baik yang berada dalam struktur
pemerintahan maupun yang berada di luar struktur (HMI tetap bertindak sebagai
pengontrol terhadap kebijakan yang mesti disikapi), kerja sama tersebut tidak
hanya berlaku di ranah gerakan “tetapi juga berlaku di luar area gerakan”
sepanjang komunitas hijau hitam memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi
untuk mengambil keputusan dan bertindak untuk kepentingan umat tanpa
paksaan/tekanan dari kelompok/individu manapun. independensi sebagai sikap
tidak boleh hanya dipahamai “ke luar” tetapi ia juga harus dipahami “ke dalam”,
pemahaman independensi ke arah “dalam” tidak bermaksud menghidupkan benih
kecurigaan di antara sesama kader (khawatir akan terjadi intervensi antara sesama
kader) akan tetapi ia lebih dimakasudkan agar para kader mampu bertanggungjawab
atas semua tindakannya karena tindakan yang mereka ambil lahir dari
pertimbangan matang dan mutlak merupakan pilihan sendiri, kerja sama di antara sesama
kader tetap dibutuhkan demi menjaga solidaritas organisasi.
jika ingin independensi
mengejawantah sebagai sebuah sikap organisasi dalam ranah praktis maka, syarat
utamanya selain “pemahaman utuh” adalah karakter, dalam artian bahwa kader
hijau hitam harus memiliki karakter ulil albab jika ingin menjaga stabilitas
independensi di ranah praktis, kenapa harus karakter ulil albab? sebab karakter
inilah yang mampu menjadi jaminan dan pijakan awal dalam menancapkan karakter
independensi di dunia nyata, alasannya karena sebagian besar indikator ulil
albab mampu menjadi modal awal bagi para kader dalam menginternalisasikan
prilaku independensi ke dalam dirinya. Kita juga seharusnya mawas diri agar
tidak menjadikan independensi sebagai tameng atas kritik dari luar yang
dialamatkan kepada lembaga, akan tidak bijak jika HMI mempersepsi kritik yang
dialamatkan kepadanya sebagai bentuk intervensi organisasi, dalam situasi ini
dibutuhkan kemampuan analisa tingkat tinggi guna membedakan antara intervensi
yang bersifat merusak dengan kritik yang konstruktif, kritik konstruktif tetap
diapresiasi termasuk yang datang dari luar, yang dibutuhkan adalah kecerdasan
dalam menyikapi kritik tersebut sebab terdapat berbagai organisasi yang mampu
melebarkan sayap karena ia cerdas dalam melakukan seleksi kreatif terhadap
setiap kritik yang dialamatkan kepadanya, independensi merupakan jantung dalam
bersikap tetapi kita mesti memposisikannya secara cerdas.
Sajak Perkenalan
- Untuk mu M.A-
Assalamuallaikum,,,
Dengan mengucapkan salam
Aku mengenalmu,,
Dengan melafadzkan bismillahirrohmanirrohim
Aku merindukan mu
Dan dengan sholawat nabi
Aku berdoa agar rindu ini tetap terjaga
Sempat berucap “jika kau datang kerumahku,bawalah setundun pisang untuk ku.”
Lalu aku menjawab “jangankan satu tundun sepuluh tundun pisang pun akan ku bawa. Karena kebetulan aku punya kebunnya”
Kau tersipu malu tapi tak habis begitu saja dalihmu
Lalu kau ajukan syarat lagi, kata mu “ kalau begitu,berikan aku istana atau kau buatkan aku istana yang megah” sembari tersenyum bangga.
Aku hanya bisa mengelus-elus rambutku
Sembari senyum aku menjawab ”aku tak bisa membuatkan mu istana yang megah,tapi aku punya kesederhanaan hati dan hidup,siapa tahu dengan kesederhanaan itu aku bisa membuatkanmu istana yang dipenuhi oleh cinta dan sayang.”
Dan kau pun terdiam
Lalu dengan dua kalimat sahadat
Aku akan meminta restu pada orang tua mu,
Jakarta 16 Mei 2011
Nano Mg
Assalamuallaikum,,,
Dengan mengucapkan salam
Aku mengenalmu,,
Dengan melafadzkan bismillahirrohmanirrohim
Aku merindukan mu
Dan dengan sholawat nabi
Aku berdoa agar rindu ini tetap terjaga
Sempat berucap “jika kau datang kerumahku,bawalah setundun pisang untuk ku.”
Lalu aku menjawab “jangankan satu tundun sepuluh tundun pisang pun akan ku bawa. Karena kebetulan aku punya kebunnya”
Kau tersipu malu tapi tak habis begitu saja dalihmu
Lalu kau ajukan syarat lagi, kata mu “ kalau begitu,berikan aku istana atau kau buatkan aku istana yang megah” sembari tersenyum bangga.
Aku hanya bisa mengelus-elus rambutku
Sembari senyum aku menjawab ”aku tak bisa membuatkan mu istana yang megah,tapi aku punya kesederhanaan hati dan hidup,siapa tahu dengan kesederhanaan itu aku bisa membuatkanmu istana yang dipenuhi oleh cinta dan sayang.”
Dan kau pun terdiam
Lalu dengan dua kalimat sahadat
Aku akan meminta restu pada orang tua mu,
Jakarta 16 Mei 2011
Nano Mg
Ketika Semakin Mencintainya
ia adalah sebuah benda mati yang ada jauh sebelum orde lama
lalu membuahi rahim-rahim manusia hingga beranak pinak menjadi banyak
kadang ia merusak sel otak orang-orang yang mencintainya
meski pura-pura,namun telah menjadi serius
ketika mereka lupa kalau ini hanya sebuah sandiwara
kemudian tahun demi tahun ia belajar menjadi dewasa
menggunakan kedua kakinya untuk berjalan
untuk berhenti dimana tempat yang ia suka
kadang di daerah birokrasi
atau merambah ke daerah terisolasi sekali pun
maka ia perlahan menjadi hidup
ia adalah pemangsa kaum-kaum lemah
menjadi semakin buas ketika orang semakin mencintainya
kadang ia belajar di kampus-kampus
berteman dekat dengan lembaga-lembaga terkait
maka ia semakin liar mengenakan nama almamater
ia adalah sebuah benda mati
berada jauh sebelum kita merdeka
maka ia hidup dalam orang-orang yang mencintainya
mereka ; lumpuh karena terlalu memujanya
kadang ia merusak sel otak orang-orang yang mencintainya
meski pura-pura,namun telah menjadi serius
ketika mereka lupa kalau ini hanya sebuah sandiwara
kemudian tahun demi tahun ia belajar menjadi dewasa
menggunakan kedua kakinya untuk berjalan
untuk berhenti dimana tempat yang ia suka
kadang di daerah birokrasi
atau merambah ke daerah terisolasi sekali pun
maka ia perlahan menjadi hidup
ia adalah pemangsa kaum-kaum lemah
menjadi semakin buas ketika orang semakin mencintainya
kadang ia belajar di kampus-kampus
berteman dekat dengan lembaga-lembaga terkait
maka ia semakin liar mengenakan nama almamater
ia adalah sebuah benda mati
berada jauh sebelum kita merdeka
maka ia hidup dalam orang-orang yang mencintainya
mereka ; lumpuh karena terlalu memujanya
Yori Kayama- Padang, 2011
Jumat, 18 Januari 2013
SASTRA ; SELAKSAR CERITA DI BALIK JENDELA
(Sampean,
Korkom Makbar)
Aku tergopoh-gepoh
untuk melampaui yang arif, hingga tak kunjung tiba pada sikap bijaksana.
Termenung menuai ketaksanggupan untuk melampaui itu. Bersilah menikmati
keindahan lantunan para penjajal ilmu ku silat dengan hirupan makna
menyatu
dengan tubuh yang lesuh dengan gisi keilmuan. Ku jajal dengan pencarian
hingga
ku jagal dengan pisau belatih bertajuk nuansa harmonis keilmuan.
Ketangkasan ku
tak sanggup menyergap energi pengatahuan, ku biarkan berlalu seiring
cerita
menggelantung di udara, biarkan di tangkap dengan yang lain oleh para
penjajal
ilmu.
Pengetahuan dan ilmu
kian bersajak dengan kelaminnya, berhias dengan warnanya, tercebur pada
makna yang mendua.
Disharmoni kian menghantu menghujat keterbatasan-keterbatasan rasio.
Terlena
dengan rayuan pelacur nihilisme dan absurditas. Teologis sebagai
Pemantik
menjadi kehebohan sang ateis bernyanyi bersama kematian Tuhan.
Berlanggam
dengan kebenaran absurditas. Asyik...... sejarah menjadi drakula
penghisap
hakikat dari nuansa spekulatif dari sang penguasa birahi. Jenjang
dialektika
pembenaran tentang hipokrit yang di tuangkan dalam poci pembantaian atas
nama
kemanusiaan. Luar biasa.... kebenaran di gugat atas nama kebenaran.
Manusia
teracung dengan metafisika atas ketaksanggupan menggapai hakikat.
Hakikat
malampaui ruang-ruang akal manusia di kembalikan pada material berujung
pada
kehidupan yang pragmatis. Yah... nikmat.
Jadi aku harus bilang
WoOuUUu gi thu..... itulah nuansa tantang senandung drama ilmu dari
panggung
pentas kehidupanku, Aku terpana darinya sebagai air untuk di teguk saat
dahaga menghampiriku.
Ku junjung sampai ke langit, ku himpit sebagai letakkan pijakan kakiku,
merundung sebagai bentuk peratapan dari makna yang ambivalen. Meradang
dari
ketaksanggupan untuk melingukupi. Jujur aku iri
dari siapa yang mengunkap isi hatinya di balik jendela, mengungkapkan
syair-syair ini menembus hijab-hijab kebodohan. Larik-larik itu
mennggugah
imajinasi ke nirwana.
Pori-pori dishormani bersamaku
dalam pijakan keraguan. Melangkah setapak demi setapak untuk menuai
hasil
pencarian. Bulir-bulir pengatahuan menyentuh kalbu, merongrong akal,
menggugat
realitas. Kedalaman ilmu mencuat saat ku galih hingga kedalaman
keterbatasanku,
tak kunjung sampai pada batasnya. Ku kerahkan energi untuknya, ku
curahkan
segala perhatianku kepadanya, hingga aku malu berpaling darinya sebab
aku belum
tercebur kedalamnya. Malu aku bercerita tentang keilmuan itu di balik
batas
yang ku miliki, belum sanggup melampaui orang yang bercerita di balik
jendala
itu, aku kagum kepadanya, tapi Cuma ada suara merdu menggelayut,
menyayat hati
dengan kelembutan tutur katanya.
Dia guruku, yang
membuka pintu jendela pengatahuanku. Dia mengenalkan tentang sebuah
cerita,
misteri tentang kehidupan. Darinya ku dapatkan pengantar tidur untuk
melamun,
membuka luka lama yang tersayat pisau,aku terlentang dari keheningan
malam,
menyusuri lorong-lorong mimpi. Membuka sayutan mata ketika fajar
mennyambut
datangnya hari esok. Harapan menyisiri hari, ku buka lembaran-lembaran
di
hadapanku untuk mencekal kekeringan jiwa yang ku alami.
Guruku di balik
imajinasiku, guruku di balik jendelaku, kau hanya selaksar imajinasi
yang
membuka pintu pencarianku. kini ceritamu telah terselebungi dengan
nuansa
fatarmogana, aku keliru di jalan ini, tapi suarumu tak lagi menyeruak di
balik
jendela ku. ku nanti kau untuk
menampakkan dirimu tapi dirimu hanya bayang-bayang semu. Guru, kau tak
lebih
dari ungkapan-ungkapan yang tercecer dari setiap perjalananku, aku hanya
bisa
mengenanmu lewat apa yang ku dapatkan pada gaung-gaung suara di di udara
lalu
ku tangkap dengan kesanggupanku. Siapa yang lewat di telingaku dengan
falsafah
hidup, dialah guruku, entah siapa, sebab
mengenalmu bukan hal yang penting tapi
yang penting adalah pengetahuan itu. Guru kau adalah imajinasiku di
balik
selaksar cerita di balik jendela itu. Yang ku lalui pada larik cerita
ini hanyalah sebuah kehidupan
imajinasi yang menyeruak dari letupan imajinasi yang menghampar.
Sekian
dan Terimakasih
yang mneyempatkan waktunya untuk membaca,
sebab tak ada pengetahuan
tersimpan
dalam larik cerita ini,
tak ada pelajaran yang bisa kita tarik.
Tak ada
nuansa
keindahan dalam baitnya karena bukan puisi tapi ini adalah sebuah
kehidupan
puisi.
Langganan:
Postingan (Atom)
