Selasa, 22 Januari 2013

Sajak Perkenalan

- Untuk mu M.A-

Assalamuallaikum,,,
Dengan mengucapkan salam
Aku mengenalmu,,
Dengan melafadzkan bismillahirrohmanirrohim
Aku merindukan mu
Dan dengan sholawat nabi
Aku berdoa agar rindu ini tetap terjaga
Sempat berucap “jika kau datang kerumahku,bawalah setundun pisang untuk ku.”
Lalu aku menjawab “jangankan satu tundun sepuluh tundun pisang pun akan ku bawa. Karena kebetulan aku punya kebunnya”
Kau tersipu malu tapi tak habis begitu saja dalihmu
Lalu kau ajukan syarat lagi, kata mu  “ kalau begitu,berikan aku istana atau kau buatkan aku istana yang megah” sembari tersenyum bangga.
Aku hanya bisa mengelus-elus rambutku
Sembari senyum aku menjawab ”aku tak bisa membuatkan mu istana yang megah,tapi aku punya kesederhanaan hati dan hidup,siapa tahu dengan kesederhanaan itu aku bisa membuatkanmu istana yang dipenuhi oleh cinta dan sayang.”
Dan kau pun terdiam
Lalu dengan dua kalimat sahadat
Aku akan meminta restu pada orang tua mu,

                                                                    Jakarta 16 Mei 2011


                                                                        Nano Mg

Ketika Semakin Mencintainya

ia adalah sebuah benda mati yang ada jauh sebelum orde lama lalu membuahi  rahim-rahim manusia hingga beranak pinak menjadi banyak
kadang ia merusak sel otak orang-orang yang mencintainya
meski pura-pura,namun telah menjadi serius
ketika mereka lupa kalau ini hanya sebuah sandiwara

kemudian tahun demi tahun ia belajar menjadi dewasa
menggunakan kedua kakinya untuk berjalan
untuk berhenti dimana tempat yang ia suka
kadang di daerah birokrasi
atau merambah ke daerah terisolasi sekali pun
maka ia perlahan menjadi hidup

ia adalah pemangsa kaum-kaum lemah
menjadi semakin buas ketika orang semakin mencintainya
kadang ia belajar di kampus-kampus
berteman dekat dengan lembaga-lembaga terkait
maka ia semakin liar mengenakan nama almamater

ia adalah sebuah benda mati
berada jauh sebelum kita merdeka
maka ia hidup dalam  orang-orang yang mencintainya
mereka ;  lumpuh karena terlalu memujanya

Yori Kayama- Padang, 2011

Jumat, 18 Januari 2013

SASTRA ; SELAKSAR CERITA DI BALIK JENDELA

(Sampean, Korkom Makbar)
Aku tergopoh-gepoh untuk melampaui yang arif, hingga tak kunjung tiba pada sikap bijaksana. Termenung menuai ketaksanggupan untuk melampaui itu. Bersilah menikmati keindahan lantunan para penjajal ilmu ku silat dengan hirupan makna menyatu dengan tubuh yang lesuh dengan gisi keilmuan. Ku jajal dengan pencarian hingga ku jagal dengan pisau belatih bertajuk nuansa harmonis keilmuan. Ketangkasan ku tak sanggup menyergap energi pengatahuan, ku biarkan berlalu seiring cerita menggelantung di udara, biarkan di tangkap dengan yang lain oleh para penjajal ilmu.
 
Pengetahuan dan ilmu kian bersajak dengan kelaminnya, berhias dengan  warnanya, tercebur pada makna yang mendua. Disharmoni kian menghantu menghujat keterbatasan-keterbatasan rasio. Terlena dengan rayuan pelacur nihilisme dan absurditas. Teologis sebagai Pemantik menjadi kehebohan sang ateis bernyanyi bersama kematian Tuhan. Berlanggam dengan kebenaran absurditas. Asyik...... sejarah menjadi drakula penghisap hakikat dari nuansa spekulatif dari sang penguasa birahi. Jenjang dialektika pembenaran tentang hipokrit yang di tuangkan dalam poci pembantaian atas nama kemanusiaan. Luar biasa.... kebenaran di gugat atas nama kebenaran. Manusia teracung dengan metafisika atas ketaksanggupan menggapai hakikat. Hakikat malampaui ruang-ruang akal manusia di kembalikan pada material berujung pada kehidupan yang pragmatis. Yah... nikmat.
Jadi aku harus bilang WoOuUUu gi thu..... itulah nuansa tantang senandung drama ilmu dari panggung pentas kehidupanku, Aku terpana darinya sebagai air untuk di teguk saat dahaga menghampiriku. Ku junjung sampai ke langit, ku himpit sebagai letakkan pijakan kakiku, merundung sebagai bentuk peratapan dari makna yang ambivalen. Meradang dari ketaksanggupan untuk melingukupi. Jujur aku iri  dari siapa yang mengunkap isi hatinya di balik jendela, mengungkapkan syair-syair ini menembus hijab-hijab kebodohan. Larik-larik itu mennggugah imajinasi ke nirwana.
Pori-pori dishormani bersamaku dalam pijakan keraguan. Melangkah setapak demi setapak untuk menuai hasil pencarian. Bulir-bulir pengatahuan menyentuh kalbu, merongrong akal, menggugat realitas. Kedalaman ilmu mencuat saat ku galih hingga kedalaman keterbatasanku, tak kunjung sampai pada batasnya. Ku kerahkan energi untuknya, ku curahkan segala perhatianku kepadanya, hingga aku malu berpaling darinya sebab aku belum tercebur kedalamnya. Malu aku bercerita tentang keilmuan itu di balik batas yang ku miliki, belum sanggup melampaui orang yang bercerita di balik jendala itu, aku kagum kepadanya, tapi Cuma ada suara merdu menggelayut, menyayat hati dengan kelembutan tutur katanya.
Dia guruku, yang membuka pintu jendela pengatahuanku. Dia mengenalkan tentang sebuah cerita, misteri tentang kehidupan. Darinya ku dapatkan pengantar tidur untuk melamun, membuka luka lama yang tersayat pisau,aku terlentang dari keheningan malam, menyusuri lorong-lorong mimpi. Membuka sayutan mata ketika fajar mennyambut datangnya hari esok. Harapan menyisiri hari, ku buka lembaran-lembaran di hadapanku untuk mencekal kekeringan jiwa yang ku alami.
Guruku di balik imajinasiku, guruku di balik jendelaku, kau hanya selaksar imajinasi yang membuka pintu pencarianku. kini ceritamu telah terselebungi dengan nuansa fatarmogana, aku keliru di jalan ini, tapi suarumu tak lagi menyeruak di balik jendela ku.  ku nanti kau untuk menampakkan dirimu tapi dirimu hanya bayang-bayang semu. Guru, kau tak lebih dari ungkapan-ungkapan yang tercecer dari setiap perjalananku, aku hanya bisa mengenanmu lewat apa yang ku dapatkan pada gaung-gaung suara di di udara lalu ku tangkap dengan kesanggupanku. Siapa yang lewat di telingaku dengan falsafah hidup,  dialah guruku, entah siapa, sebab mengenalmu bukan hal yang  penting tapi yang penting adalah pengetahuan itu. Guru kau adalah imajinasiku di balik selaksar cerita di balik jendela itu. Yang ku lalui pada  larik cerita ini hanyalah sebuah kehidupan imajinasi yang menyeruak dari letupan imajinasi yang menghampar.
Sekian dan Terimakasih yang mneyempatkan waktunya untuk membaca, 
sebab tak ada pengetahuan tersimpan dalam larik cerita ini,
tak ada pelajaran yang bisa kita tarik. 
Tak ada nuansa keindahan dalam baitnya karena bukan puisi tapi ini adalah sebuah kehidupan puisi.

Untukmu Karmila Kasmin



Pernah aku membaca sebuah komentar yang ada di jaringan sosial (facebook) yang mengomentari salah satu status terbaruku di facebook saat itu. Kau menuliskan komentarmu, “ aku tidak terlahir dari rahim hijau, aku tidak terlahir dari rahim hitam dan tidak juga lahir dari rahim hijau hitam. Tapi apakah aku tidak bisa menjadi sahabatmu”. Dan saat aku membacanya, lama aku terdiam, merenungi apa yang kau tanyakan.
Sungguh, aku tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat, tidak penah. Bahkan hal itu tidak pernah terfikirkan olehku.
Bagiku, kau bukan sekedar sahabat,
Tapi aku telah menganggapmu saudaraku bahkan lebih dari saudara, itupun jika kau mau menganggapku saudara.
Aku menyayangimu selayaknya adik ke kakaknya, bahkan aku takut kehilanganmu.
Kau tahu, aku slalu merindukan saat duduk bersamamu, baik itu di kamar, ditempat nonton tv,  bercerita tentang apa saja! merindukan saat kau bercerita tentang keluargamu, temanmu, kejadian-kejadian yang kau alami di setiap harinya. Aku merindukan hal itu, Tapi hal itu mungkin tidak akan terulang lagi, karena kita berdua masing-masing memiliki kesibukan sendiri. Sehingga aku merasa kau sangat jauh dariku.
Semuanya bermula saat kau menjadi staf di prodi, dan aku sendiri aktif dan melakukan hampir semua aktivitasku di lingkungan teman-teman organisasi ekstra kampus. Aku merasa ada yang hilang. Makanya setiap aku pulang, aku slalu bertanya pada teman-teman di kost, “ada ka’mila” dan berharap kau ada di dalam kamarmu. Tapi mereka menjawab “tadi ada, tapi keluar lagi”. Lantas aku kembali ke kamarku, merebahkan tubuhku di tempat pembaringan dan menuju ke pulau kapuk bersama bayang-bayangmu.

Sebias Cahaya




Friday, June 15, 2012



Dimalam yang sunyi senyap,
sangatlah diperlukan sebias cahaya yang dapat menenangkan hati.
Pernah terfikirkan, sebias cahaya itu adalah kau.
Aku bahkan masih belum bisa memahami cinta
Jadi tak bisa mendekatinya
Tapi mengapa hatiku yang bodoh ini
Terus berdebar
Aku bahkan tak tahu bagaimana waktu berlalu
Tapi denganmu aku bisa rasakan waktu belalu
Aku ingin tinggal sisimu sebentar saja,
Meski hanya sebentar, tapi
Waktu berlalu begitu cepat ketika aku bersamamu
Dan ketika kau pergi, aku terus merasa kehilanganmu
Waktu terasa berjalan sangat lambat
Rasanya sulit
Karena hatiku tlah jatuh untukmu

Intermediate Training In Makassar City. Benteng Somba Opu.

23 05 2012

malam ni..
nggak tw knp jadi kpikiran bahwa selama ini ada yang hilang..
kepingan-kepingan kenangan yang saat ini, aku berusaha mengingatnya kembali

yaa
Aku ingat, hampir dua pekan kami bersama
Banyak hal yang terjadi Sesuatu yang nggak pernah terfikirkan sebelumnya
Aku tidak sedang merangkai kata-kata indah
Aku hanya ingin mengenang kembali.
Mmmm… ingatkah kalian, kala itu Kita semua hampir tidak pernah sarapan, langsung masuk forum Apa kalian juga ingat?
- Saat-saat ngerjain tugas Makalah atau Resume dari pemandu 
- Ada yang tertidur di forum 
- Diskusi yang selalu diselingi canda tawa 
- Ada air yang mengalir karena keegoisan 
- Rasa senang, sakit, jenuh. 
Semua menyatu di Benteng somba opu Pesertanya pun berasal dari daerah yang berbeda. Ada yang dari
- Majene 
 - Makassar 
- Mamuju 
 - Palopo 
- Pangkep 
- Sorong 
- Tarakan
semuanya telah berubah, semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing KARENANYA..
1. tak ada lagi Hidayat: “Akhwat…!!! Kalian ingat ingat julukan apa yang melekat pada orang ini?” yupz. Cukup akhwat yang tw…
2. tak ada lagi Jusman: yang kalau ngomong biasanya, suaranya nggak kedengaran.
3. tak ada lagi Abdul haris: si Mr.E… yang kalau ngomong nggak pernah lupa dengan “E”nya
4. tak ada lagi M.Anjar: si Mr.Kompor mleduk, yang ngomongnya nggak karuan, nggak pernah dikontrol… (peace kanda)
5. tak ada lagi Saharuddin: ketua cabang tarakan yang penampilannya dewasa AbiezzzZz
6. tak ada lagi Soneka: kanda yang alergi photo.
7. tak ada lagi Ahmad: yang slalu sabar ngadepin si Amar yang supr lebayyY 8. tak ada lagi Amran: si pa’haji yang marah-marah dan mlototin orang-orang didalam forum
9. tak ada lagi Syahruddin: peserta yang hampir ngaak pernah ngomong di forum.
10. tak ada lagi Baihaqi z: yang slalu menjengkelkan di dalam forum, tapi super baik hati katanya.
11. tak ada lagi Rifal: kepala suku yang suka telat masuk forum.
12. tak ada lagi Lalu artana: si Mr Pede
13. tak ada lagi Jusnawati: si jenius ( kta Hidayati)
14. tak ada lagi Suhasti p: si preman insyaf (kta Hidayati too)
15. tak ada lagi Suharni: si ibu suku yang biasa masak sarapan buat peserta akhwat
 16. tak ada lagi Ma’rifah: si penampakan (kta K’juanda)
17. tak ada lagi Suriani: si tuti(tukang tidur) tapi cekatan.
18. tak ada lagi Amar: si tuti juga. Dan parahnya lagi. udah tw tuti, dengan pedenya duduk didepan low diforum. hahaha amar... Amar
19. tak ada lagi Ali akbar: si tuti. ½ ma suriani
20. tak ada lagi Sulfiani: ukhti yang harus diamankan kalau ada keributan, kalau nggak bisa jantungan.
21. tak ada lagi Hidayati: ukhti yang slalu mencairkan suasana, kalau teman-teman akhwat semangatnya menurun.
22. tak ada lagi Awaluddin: Kekom uncp palopo yang sudah kurus, kasihan. Tambah kurus gara-gara LK2.
23. tak ada lagi Abdul haris (pace): slalu jadi bahan candaan peserta Intermediate Training.
24. tak ada lagi Muslimin:?
25. tak ada lagi Mutlak: SiMr. Berkapabel
26. tak ada lagi Syufian hadi: yang slalu komentar tentang namanya
27. tak ada lagi Ilham usman:?
28. tak ada lagi Sirajuddin:? 
 
MMmmmm… yang mau nambah koment silahkan. Nggak ada yang larang.

Senin, 26 Desember 2011

catatan kecil untuk kader himpunan mahasiswa islam (HMI)

Saya ingin HMI BERSATU, tidak ada lagi HMI MPO atau HMI Dipo. Tetapi lebih dari itu, saya ingin HMI tetap SILAHTURAHMI jika memang belum bisa bersatu. Bersatu atau tidak bersatu dalam organisasi formal itu adalah sebuah kebutuhan natural bukan sebuah pemaksaan. Hanya apakah kita ingin bersatu atau tidak, silahturahmi diantara kita harus tetap ada dan harus tetap kita jaga bersama…

Yang perlu kita garis bawahi bersama, saat HMI pecah dulu, itu lebih didasari oleh strategi perjuangan kala itu menghadapi Rezim ORBA. Pecah adalah strategi untuk survive. Hanya Rezim ORBA itu sudah lama sekali kita kalahkan. Sudah lebih dari 1 dekade ORBA berhasil kita „plokoto“ alias kita „kuyo-kuyo“ pertahanan otoriternya. ORBA saat ini telah menjadi musuh masa lalu…

Musuh kita ke depan bukan lagi Rezim Militer ORBA. Musuh kita ke depan adalah Rezim Kapitalis Global yang akan kuras kekayaan alam kita dan jadikan kita bangsa kuli. Cara-2 strategi perjuangan melawan rezim ORBA seperti: (1) dengan kompromis merangkul atau dengan (2) demo militan ternyata TIDAK BERGUNA jika berhadapan dengan lawan baru: Rezim Kapitalis Global!

Mereka, para Kapitalis Global ini, sama dengan Penjajah Londo dulu. Mereka adalah para ORANG ASING yang PINTAR dengan KAPITAL besar BERKOLABORASI dengan PEMIMPIN KORUP bangsa kita untuk: (1) membeli BUMN strategis kita, (2) mengeruk tambang dan minyak kita serta merusak lingkungannya, (3) membabat habis hutan kita, (4) menjadikan kita sebagai pasar konsumtif produk mereka, (5) memasukkan kita dalam berbagai jebakan hutang, dll.

Nenek buyut dan nenek canggah kita dulu kalah total saat melawan kapitalis Londo karena mereka tercerai berai tanpa organisasi yang rapih. Ratusan tahun nenek-nenek canggah kita terkalah oleh mereka. Dianiaya dan dijajah mereka. Tidakkah kita belajar dari sana?

Lantas cara apa yang paling efektif untuk melawan musuh baru kita? MEMBANGUN JEJARINGAN ORGANISASI besar yang kuat dan terkordinasi baik. Cara itu bukan ide saya murni. Cara itu adalah terinpirasi dari perkataan Kanjeng Rosul “bahwa kebaikan yang terpecah-pecah itu akan terkalahkan oleh kebathilan yang terorganisir rapih…”

Lawan kita ke depan itu bukan lagi Rezim Militer ORBA. Lawan kita ke depan adalah Rezim Kapitalis Global. Tidakkah HMI dan para organisasi mahasiswa lainnya segera bersiap membangun jejaringan organisasi yang baik? Semoga ke depan jika saatnya tiba para aktivis dan alumni muda HMI (serta organisasi mahasiswa ekstra kamus lainnya) sudah sangat siap menjadi petarung terdepan menghadapi musuh kita yang jauh lebih canggih yaitu: Kapitalis Global, dalam berbagai pertarungan memakan waktu panjang yang amat brutal dan frontal!

Pagi Hari yang beku dan berkabut di Awal Musim Semi
Dari Tepian Lembah Sungai Isar,
05.03.2011, München

oleh
Ferizal Ramli
Yang begitu bangga pernah bernafas dalam kebersamaan di HMI MPO dulu dan berharap saat ini hanya ada 1 HMI kuat, yaitu HMI tanpa embel-2 MPO atau Dipo.